I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Teknologi yang makin canggih, dan makin beragamnya jenis dan karakteristik dari suatu produk serta menuntut pelayanan (service) yang memuaskan bagi pelanggan. Hasilnya makin meningkatkan biaya produk dari suatu perusahaan yang membuat beberapa perusahaan di Indonesia dan terlebih negara-negara maju untuk membuat suatu sistem distribusi yang jauh lebih efektif, terstruktur, dan sistematis sehingga mampu menekan biaya-biaya yang terjadi selama proses produksi dan Proses Distribusi suatu Produk.
Dewasa ini telah diperkenalkan system manajemen yang dinamakan Supply Chain Management atau biasa disingkat SCM. Pengertian SCM menurut Kalakota (2000) : Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management) adalah sebuah ‘proses payung’ di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai suplai adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001). Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut. Secara khusus, dalam Supply Chain terdapat berbagai macam gejala dan permasalahan yang sering menjadi perdebatan atau dianalisis sehingga menimbulkan beberapa variasi asumsi yang dapat dibuktikan dengan kenyataan di Lapangan.
PT. Maruki International Indonesia berlokasi di Makassar, provinsi Sulawesi Selatan, kurang lebih 15 km arah Utara kota Makassar, tepatnya di Kelurahan Kapasa, kecamatan Tamalanrea dalam Kompleks Kawasan Industri Makassar (KIMA) dengan hasil produksi utama adalah Butsudan yang seluruh konsumennya berasal dari Jepang .
Salah satu alur SCM yang terkenal pada dewasa ini yang jaringan kerjanya sangat kolektif dan sistematis dan menghasilkan beberapa gejala penundaan Deadline Time, Non-Peramalan dan mengandung unsur Cuztomization dilakukan pada PT. Maruki International Indonesia Tbk. Produk dari perusahaan tersebut sangat beraneka ragam sehingga memperluas jaringan distribusi dan menghasilkan pelayanan yang sangat customize, dimana setiap jenis butsudan(jelaskan dulu apa itu butsudan) yang dihasilkan selalu menyesuaikan dengan permintaan Customer dan dalam memenuhi beraneka ragamnya menggunakan beberapa strategi produksi dan distribusi serta waktu tunggu (Lead Time) untuk setiap prosesnya. Gejala atau Fenomena yang dimaksud adalah Decoupling Point (DP). Yang dimaksud dengan Decoupling Point adalah titik temu dimana suatu kegiatan yang terlibat dalam Proses Supply Chain bisa dilakukan atas dasar Strategic Fit perusahaan dan dari mana kegiatan produksi butsudan harus ditunda sampai ada ukuran permintaan yang pasti dari Customer, Decopling Point juga sering disebut sebagai Order Penetration Point (OPP) . (menurut siapa)
Disinilah penulis tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenai aplikasi Decoupling Point di Perusahaan, terlebih lagi yang berkoordinasi dengan pihak asing.
Penulis tertarik untuk mengkaji dan menganalisis kebijakan dari perusahaan yang mendukung terlaksananya Strategic Fit (Strategi Perusahaan) secara lebih efektif. Dengan kata lain bagaimana perusahaan berusaha mensinkronkan antara variasi permintaan pelanggan (Make To Order) dengan sistem perakitan butsudan (Engine To Order )? .
Dan atas dasar inilah penulis memilih judul “Model Supply Chain Management dengan variasi Decoupling Point di PT. Maruki International Indonesia Tbk” sebagai Tugas Akhir.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan Latar Balakang maka dipilih pokok permasalahan sebagai berikut :
1. Apa saja proses yang terlibat dalam Jaringan Kerja Supply Chain secara kolektif .
2. Bagaimana pengaruh Decoupling Point terhadap Manajemen Strategis yang diterapkan dalam sistem kolektif .
C. Batasan Masalah
Untuk mengarahkan agar penelitian dan permasalahan yang dikaji lebih mendetail dan sesuai dengan judul dan tujuan penulisan Tugas Akhir ini, maka penulis membatasi masalah yang akan dibahas berikut ini:
1. Berbagai Proses di PT Maruki International Indonesia Tbk .
2. Membandingkan Elemen-Elemen dalam Proses Supply Chain Management dan bagaimana karakteristik Butsudan sebagai Produk Inovatif .
3. Berbagai manajemen Strategik di PT. Maruki International Indonesia Tbk .
4. Decoupling Point yang terjadi pada PT. Maruki International Indonesia Tbk .
D. Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi Proses yang akan terjadi dalam SCM serta seberapa jauh Proses tersebut mempengaruhi efektifitas alur proses produksi dan bahan baku .
2. Membandingkan tingkat keberhasilan penerapan Mass Customization Strategy dengan Variasi Decoupling Point .
3. Mengidentifikasi dan menganalisa karakteristik proses pengerjaan Butsudan untuk memenuhi permintaan sesuai variabilitas dari konsumen.
4. Membuat model Supply Chain Management pada PT. Maruki International Indonesia Tbk .
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis, untuk mengetahui lebih dalam mengenai Proses Supply Chain Management dan gejala Decoupling Point yang berlaku di PT Maruki International Indonesia Tbk.
2. Bagi kalangan Akademik, khususnya Program Studi Teknik Industri dapat dijadikan salah satu referensi untuk memperluas pemahaman mengenai Manajemen Strategic dan Decoupling Point pada SCM .
3. Bagi Perusahaan, untuk menjadi masukan bagi Perusahaan dalam mengefektifkan Manajemen Strategis dan bagian penjualan.

disusun oleh:
ANTONIO (D221 05 020)
M.AISAR WAHID (D221 05 028)
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
PT. Semen Tonasa (Persero) merupakan pabrik semen terbesar di kawasan Timur Indonesia, dengan kapasitas produksi sebesar 3.400.000 ton/tahun.
Dewasa ini PT. Semen Tonasa (Persero) hanya memproduksi semen Portland jenis C, yang diproduksi dalam bentuk semen sak maupun semen curah, bergantung pada permintaan atau pesanan.
PT. Semen Tonasa (Persero) memasarkan produknya di Pulau Sulawesi bersama-sama dengan PT. Semen Kupang dan Semen Bosowa, serta wilayah-wilayah di sekitarnya, seperti Kalimantan, Maluku, Irian Jaya (Papua), Bali, Nusa Tenggara, serta ada juga yang diekspor ke Filipina dan Bangladesh. Untuk distribusi semen ke luar Pulau Sulawesi, semen sak maupun semen curah diangkut dari lokasi pabrik menggunakan truk pengangkut untuk kemudian dikantongkan menjadi semen sak atau diangkut langsung ke dalam kapal dalam bentuk semen curah di Pelabuhan Biring Kassi.
Proses pengangkutan semen dari pabrik ke Pelabuhan Biring Kassi ini mengalami hambatan dalam hal pemenuhan target pengangkutan yakni 170 truk pengangkut/hari. Hal tersebut disebabkan karena rute yang cukup panjang, mulai dari silo pabrik, timbangan, pos pemeriksaan, jalan raya Tonasa, jalan Biring Kassi, hingga akhirnya sampai ke silo pantai atau kapal pengangkut. Rute yang panjang ini sangat berpotensi menimbulkan waiting lines atau garis tunggu di tiap-tiap titik singgah dan tentu saja waktu menunggu yang lama sangat tidak diharapkan karena dapat menurunkan efisiensi sistem pengangkutan semen dari pabrik ke Pelabuhan Biring Kassi.
Antrian atau waiting lines yang terjadi dalam sistem pengangkutan semen dari pabrik ke Pelabuhan Biring Kassi ini tidak dapat dihindari, disebabkan karena beberapa faktor yang juga menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan penelitian tugas akhir, sebagai berikut:
1. Melalui jalan raya yang juga digunakan oleh masyarakat umum, terlebih lagi karena adanya lampu merah yang harus dilalui dalam rute tersebut.
2. Prosedur-prosedur penimbangan dan pemeriksaan yang memakan waktu.
1.2 Rumusan Masalah
Sistem pengangkutan semen curah dari silo pabrik sampai ke Pelabuhan Biring Kassi dirasakan masih kurang optimal akibat antrian yang seringkali timbul karena panjangnya rute perjalanan yang harus dilalui, khususnya karena melalui jalan yang digunakan oleh masyarakat umum, dan lampu merah.
Antrian yang terjadi dalam sistem ini akan mengurangi efisiensi sistem pengangkutan, dengan kata lain akan membuat sistem bekerja tidak optimal. Faktor utama yang menyebabkan berkurangnya efisiensi kerja sistem pengangkutan ketika antrian ini terjadi adalah sebagai berikut:
1. Masa sibuk atau menganggur yang terjadi dalam sistem berlangsung cukup lama.
2. Waktu menunggu rata-rata setiap truk pengangkut dalam antrian dan sistem yang cukup panjang
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui posisi bottleneck pada sistem pengangkutan semen PT. Semen Tonasa (Persero).
2. Menghitung probabilitas server dalam keadaan menganggur.
3. Menghitung waktu menunggu rata-rata (mean lead time) setiap truk pengangkut dalam antrian.
4. Menghitung waktu rata-rata yang digunakan setiap truk pengangkut dalam sistem.
5. Mensimulasikan antrian yang terjadi dalam sistem.
1.4 Batasan Masalah
Dalam penulisan skripsi ini, kami membatasi masalah pada:
1. Sistem pengangkutan semen yang dimaksud adalah pengangkutan semen curah dari silo (dalam pabrik) sampai silo pantai di Pelabuhan Biringkassi.
2. Analisis ini dilakukan dengan pendekatan metode antrian (M/M/1); (FCFS/~/~) dan (M/M/C); (FCFS/~/~), dengan asumsi distribusi kedatangan truk pengangkut mengikuti distribusi Poisson, distribusi waktu pelayanan truk pengangkut di tiap-tiap titik singgah mengikuti distribusi eksponensial, saluran pelayanan tunggal dan ganda, disiplin pelayanan First Come First Serve (FCFS), serta jumlah kedatangan dan besar populasi yang tak terhingga.
3. Diasumsikan seluruh truk pengangkut yang mengangkut semen dari pabrik ke pelabuhan tidak mengalami kerusakan dalam perjalanannya.
4. Diasumsikan seluruh truk pengangkut semen tidak keluar dari rute pengangkutan, misalnya melakukan pengisian bahan bakar di SPBU, dan lain-lain.
5. Diasumsikan arus lalu lintas pada jalur pengangkutan diasumsikan normal.
6. Diasumsikan silo pabrik dalam keadaam selalu terisi semen.
Tugas akhir ini hanya terfokus pada menganalisa tingkat kedatangan dan pelayanan pada setiap titik yang dilalui oleh truk pengangkut semen dari pabrik sampai Biring Kassi.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Bagi perusahaan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat :
a. Memberikan analisis dan solusi yang memadai dalam meningkatkan efisiensi sistem pengangkutan semen dari pabrik ke Pelabuhan Biringkassi.
b. Menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan saat efisiensi sistem pengangkutan telah dioptimalkan, untuk kemudian melakukan kebijakan dalam menyeimbangkan antara biaya tunggu karena antrian yang terjadi, terhadap biaya mencegah terjadinya antrian tersebut sehingga dapat diperoleh keuntungan yang optimal.
2. Bagi akademik, diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk mengembangkan pengetahuan mengenai metode antrian dan penerapan teknologi yang aplikatif dalam pemecahan masalah, khususnya unuk masalah antrian itu sendiri.
3. Bagi penulis, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai metode antrian dan penggunaan simulasi komputer, khususnya Arena, dalam sistem manufaktur.

disusun oleh:
NANI S. PANRELLI (D 221 03 030)
DEWI SARTIKA (D 221 03 031)
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2007

I. PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Kebutuhan akan layanan transportasi bervariasi dari waktu ke waktu. Ada waktu-waktu dimana kebutuhan layanan sangat tinggi dan pada waktu lain kebutuhan akan layanan sangat rendah.
Kampus Universitas Hasanuddin merupakan kampus yang cukup luas sekitar 210Ha. Gedung-gedung utama di universitas ini memiliki interkoneksi yang cukup baik sehingga jalur luar yang merupakan jalan raya bertujuan untuk aktivitas yang menggunakan kendaraan bermotor maupun tidak bermotor dan menjadi penghubung gedung-gedung yang berada di sisi terluar dari kompleks Universitas Hasanuddin.
Meskipun Universitas Hasanuddin merupakan kampus yang tiap fakultas tidak terpisah-pisah dan terhubung dalam interkoneksi gedung-gedung, namun Universitas Hasanuddin adalah kompleks yang cukup luas sehingga ada beberapa bagian yang masih cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan sehingga sarana transportasi antar bagian dalam kampus, khususnya yang menghubungkan bagian-bagian terluar dari kompleks gedung utama dan beberapa bagian yang terpisah dari kompleks gedung utama.
Sebagaimana diketahui bahwa Universitas Hasanuddin memiliki dua pintu masuk/keluar maka seluruh aktivitas masuk/keluar melalui kedua pintu ini, namun arah angkutan umum hanya mengarah dalam satu arah sehingga sehingga ada tempat yang semestinya dapat ditempuh dengan cepat menjadi lebih lama karena angkutan umum tidak mengarah ketempat yang dituju dan mesti berputar jauh untuk mencapai tempat yang dimaksud.
Di samping itu dengan adanya rencana pemerintah kota Makassar akan memberlakukan sistem transportasi massal yang mengunakan bus untuk jalur arteri (salah satunya jalan Perintis Kemerdekaan) sehingga angkutan kota yang selama ini dipakai tidak akan diperkenangkan melalui Jl. Perintis Kemerdekaan dimana kampus Universitas Hasanuddin berada.
Dengan demikian Universitas Hasanuddin membutuhkan sistem transportasi dalam lingkungannya sendiri, yang dapat mendukung proses belajar mengajar dan kegiatan lainnya di dalam lingkungan kampus. Sehingga ada dua kemungkinan yang dapat diberlakukan yaitu menggunakan satu terminal atau dua terminal untuk memaksimalkan proses bongkar muat penumpang dan pendistribusiannya.
Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Dian (2006) dengan menggunakan program Arena untuk membuat simulasi dari, maka dalam tulisan ini ini juga menggunakan program (software) yang sama, yaitu Arena, namun bertujuan membandingkan sistem transportasi kampus dengan satu terminal atau dua terminal, dengan pertimbangan kecepatan penumpang yang masuk (melalui kedua pintu masuk/keluar UNHAS), jumlah halte (tempat yang sering digunakan penumpang turun dan naik angkutan kota), type bus (bus standar UNHAS).
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, kami tertarik mencoba untuk mengangkat topik ini sebagai tugas akhir dengan judul ” Pemodelan Sistem Transportasi Bus Kampus Universitas Hasanuddin dengan Pendekatan Simulasi ”.

A.    Rumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini ialah:

  1. Bagaimana model sistem transportasi bus kampus Unhas usulan dengan menggunakan simulasi.
  2. Seberapa banyak jumlah bus yang digunakan pada kedua sistem transportasi intern kampus.

B.      Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui:

  1. Membangun model sistem transportasi bus kampus Unhas usulan dengan menggunakan simulasi.
  2. Menentukan jumlah bus yang akan digunakan pada sistem transportasi bus kampus Universitas Hasanuddin.

C.    Batasan Masalah

Dalam pengembangan model simulasi, beberapa hal yang menjadi batasan untuk mempelajari perilaku sistem layanan transportasi pada penelitian ini adalah:

  1. Penulisan skripsi ini tidak memperhitungkan masalah biaya.
  2. Rute angkutan yang dibahas adalah rute yang dilalui Angkutan Kota dalam lingkungan kampus Universitas Hasanuddin.
  3. Rute yang dimaksud tidak termasuk pada Jl. Perintis kemerdekaan.
  4. Penulisan skripsi ini tidak membahas masalah yang menyangkut pengemudi bus kampus.
  5. Kapasitas masing-masing bus dianggap sama.

D.     Manfaat Penelitian

  1. Bagi penulis diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai  metode antrian dan penggunaan simulasi komputer, khususnya Arena dalam sistem manufaktur.
  2. Bagi akademik diharapkan dapat memperkaya keragaman penelitian yang ada mengenai proses antrian serta penggunaan alat bantu yang berbasis komputer ataupun penerapan teknologi yang aplikatif dalam pemecahan masalah, khususnya unuk masalah antrian.
  3. Bagi Instansi diharapkan memberikan sumbangan pemikiran kepada perusahaan yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan mengenai model sistem transportasi yang akan digunakan.

disusun oleh:
WAHDAN NANTO (D 221 03 023)
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2007

  1. I.     PENDAHULUAN

 

  1. A.      Latar Belakang

Setiap perusahaan dituntut setiap waktu untuk mampu memberikan pelayanan yang memuaskan terhadap pelanggannya, baik dari segi waktu pemenuhan yang diminta maupun dari segi kualitas yang sesuai permintaan. Dilain pihak, perusahaan juga dituntut untuk terus meningkatkan produktivitasnya. Jika perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan sesuai dengan jumlah yang ditentukan dalam waktu yang tepat, hal ini akan menimbulkan kekecewaan bagi pelanggan dan kerugian bagi perusahaan.

Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses produksi. Untuk mendapatkan efektivitas dan efisiensi proses produksi yang baik, diperlukan suatu rancangan sistem kerja yang tepat, dimana dalam sistem kerja tersebut produktivitas dan performansi kerja dapat dicapai melalui pengembangan work design, pengaturan kondisi kerja dan pendayagunaan secara maksimal sumber daya yang ada.

Tenaga kerja merupakan faktor yang paling penting dalam menjamin kelancaran proses produksi. Setiap individu yang bekerja, tidak peduli dimanapun mereka ditempatkan dalam struktur organisasi yang ada, diharuskan untuk doing the right things and working the things right (Wignjosoebroto, 2008). Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja adalah dengan menggunakan metode pengukuran waktu kerja. Metode ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan kerja dari seorang pekerja dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas dari seorang pekerja, sehingga pekerja dapat bekerja dalam keadaan normal.

Menjadi sangat penting bagi salah satu perusahaan terkemuka di Makassar PT. Maruki International Indonesia dengan Butsudan sebagai produknya  untuk meningkatkan dan mendayagunakan secara optimal sumberdaya yang ada. PT. Maruki International Indonesia memiliki 6 factory (work center) di bagian produksi yang masing- masing mengerjakan tahapan-tahapan produksi yang berbeda. Masing-masing factory memiliki target produksi bulanan yang harus dipenuhi oleh pekerjanya, namun seringkali terjadi di beberapa factory tidak dapat memenuhi target yang ditentukan

Wacana untuk menambah maupun mengurangi jumlah pekerja demi memenuhi target produksi masih menjadi kontradiksi pada PT. Maruki International Indonesia. Oleh karena itu akan dilakukan pengamatan pada factory yang sering tidak memenuhi target produksi guna mengidentifikasi aktivitas pekerja selama proses produksi dan untuk melakukan pengukuran waktu kerja secara objektif yang bertujuan untuk menentukan waktu standar kerja dengan menggunakan metode sampling kerja sehingga diketahui jumlah tenaga kerja optimal yang seharusnya dipekerjakan.

Dalam penelitian ini dipilih factory 6, sebagai factory yang mengerjakan tahapan akhir pembuatan Butsudan, khususnya pada sub unit assembling uwedai  (perakitan bagian atas Butsudan) untuk dilakukan pengukuran waktu kerja guna mendapatkan waktu standar setiap operator.

Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian sebagai tugas akhir dengan judul : Penentuan Jumlah Tenaga Kerja Optimal Berdasarkan Waktu Standar dengan Metode  Work Sampling.

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Berapa waktu standar yang diperlukan operator dalam melakukan pekerjaan di bagian produksi, khususnya di unit Assembling Uwedai pada factory 6 ?
  2. Berapa jumlah tenaga kerja yang diperlukan?
  3. Berapa besar persentase/ proporsi produktif dan persentase/proporsi idle (waktu kosong atau menganggur) rata-rata operator dalam melakukan pekerjaan?
  4. Apa yang harus dilakukan perusahaan melihat kondisi yang terjadi setelah adanya penelitian serta apa saja yang harus dilakukan perusahaan untuk dapat meningkatkan produktivitas operator ?

 

  1. C.      Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

  1.  Mengidentifikasi persentase/ proporsi produktif rata-rata dan persentase/ proporsi idle (waktu kosong) setiap operator  pada proses perakitan Uwedai dengan metode work sampling.
  2. Menentukan waktu standar setiap operator pada proses perakitan uwedai.
  3. Mengoptimalkan kebutuhan tenaga kerja yang seharusnya dipekerjakan berdasarkan waktu standar dengan metode work sampling.

 

  1. D.      Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam Tugas Akhir ini adalah sebagai

Berikut :

  1. Pengukuran dilakukan terhadap tenaga kerja yang berada di unit assembling uwedai pada  factory 6 mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 17.00 WITA.
  2. Tenaga kerja yang diamati adalah tenaga kerja dengan tingkat kemampuan dan keterampilan rata- rata dalam menyelesaikan pekerjaannya.
  3. Kondisi dan cara kerja dari pekerjaan yang diukur sudah baik atau sudah memenuhi prosedur standar perusahaan.
  4. Pengolahan data dilakukan untuk menentukan waktu standar tenaga kerja dalam menyelesaikan pekerjaannya, sehingga dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang seharusnya dipekerjakan.
  5. Data yang digunakan sebagai sampel penelitian diambil pada Mei – Juli 2011.

 

  1. E.     Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagi Penulis :
  2. Dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis, tidak hanya sebatas toritis semata.
  3. Digunakan untuk membandingkan teori yang diperoleh selama di bangku kuliah dengan kenyataan yang ada di perusahaan, agar dapat diaplikasikan untuk membantu mencari pemecahan permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan.
    1. Bagi Akademik :
  4. Sebagai bahan masukan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia untuk bidang ilmu keteknikan.
  5. Sebagai media informasi ilmiah bagi peneliti selanjutnya.
  6. Sebagai referensi tertulis mengenai pengukuran waktu kerja.
    1. Bagi Perusahaan :
  7. Sebagai bahan masukan bagi perusahaan yang terkait dalam rangka peningkatan produktivitas tenaga kerja.
  8. Data waktu baku yang didapatkan pada penelitian ini dapat dijadikan acuan yang objektif bagi perusahaan untuk melakukan pengukuran prestasi kerja maupun sistem penggajian.

disusun oleh:

Sabrina A. Lasama (D22107048)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap perusahaan di seluruh kegiatannya mempunyai maksud dan tujuan dalam membuat dan menjual berbagai produk atau menawarkan jasa tertentu, untuk itu maka perusahaan harus menyesuaikan dengan keinginan konsumen atau kemajuan zaman. Sebagai salah satu fungsi manajerial terpenting dalam sebuah perusahaannya adalah menjamin bahwa masukan-masukan berbagai sumber daya dapat menghasilkan produk atau jasa yang dirancang secara tepat atau keluaran-keluaran yang dapat memuaskan konsumen.
Dalam pengelolaan serta pengalokasian sumber-sumber daya yang tersedia diperlukan suatu kerangka atau sistem kerja yang saling mendukung. Salah satu bagian tersebut adalah bagian produksi yang merupakan suatu kegiatan yang menjadi fokus di dalam suatu fungsi perusahaan secara keseluruhan. Produksi sebagai suatu sistem yang terdiri dari unsur-unsurnya seperti modal, bahan, mesin, metoda dan tenaga kerja saling mempengaruhi dan saling bergantung sehingga diharapkan terciptanya suatu proses operasi yang efektif.
Tujuan akhir perusahaan dalam memproduksi suatu barang atau jasa adalah adanya kemajuan bagi usaha tersebut hingga dapat memperoleh laba atau keuntungan secara ekonomis mampu memenuhi tingkat permintaan yang ada sehingga bisa merebut peluang pasar.
Permasalahan keseimbangan lintasan produksi paling banyak terjadi pada proses perakitan dibandingkan pada proses pabrikasi. Pergerakan yang terus menerus kemungkinan besar dicapai dengan operasi-operaasi perakitan yang dibentuk secara manual katika beberapa operasi dapat dibagi dengan durasi waktu yang pendek. Semakin besar fleksibilitas dalam dalam mengkombinasikan beberapa tugas, maka semakin tinggi pula tingkat keseimbangan tingkat keseimbangan yang dapat dicapai, hal ini akan membuat aliran yang muls dengan membuat utilisasi tenaga kerja dan perakitan yang tinggi (Nasution, 2003). Adanya kombinasi penugasan kerja terhadap operator atau grup operator yang menempati stasiun kerja tertentu juga merupakan awal masalah keseimbangan lintasan produksi, sebab penugasan elemen kerja yang berbeda akan menimbulkan perbedaan dalam jumlah waktu yang tidak produktif dan variasi jumlah pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan keluaran produksi tertentu dalam lintasan tersebut. Masalah-masalah yang terjadi pada keseimbangan lintasan dalam suatu lintasan produksi biasanya tampak adanya penumpukan material, waktu tunggu yang tinggi dan operator yang menganggur karena beban kerja yang tidak teratur. Untuk memperbaiki kondisi tersebut dengan keseimbangan lintasan yaitu dengan menyeimbangkan stasiun kerja sesuai dengan kecepatan produksi yang diinginkan.
Keseimbangan yang sempurna tercapai apabila ada persamaan keluaran (output) dari setiap operasi dalam suatu runtutan lini. Bila keluaran yang dihasilkan tidak sama, maka keluaran maksimum mungkin tercapai untuk lini operasi yang paling lambat. Operasi yang paling lambat menyebabkan ketidakseimbangan dalam lintasan produksi. Keseimbangan pada stasiun kerja berfungsi sebagai sistem keluaran yang efisien. Hasil yang bisa diperoleh dari lintasan yang seimbang akan membawa ke arah perhatian yang lebih serius terhadap metode dan proses kerja. Keseimbangan lintasan juga memerlukan ketrampilan operator yang ditempatkan secara layak pada stasiun-stasiun kerja yang ada. Keuntungan keseimbangan lintasan adalah pembagian tugas secara merata sehingga kemacetan bisa dihindari.
Pre Delivery Centre PT. Hadji Kalla merupakan unit kerja dari PT. Hadji Kalla yang menangani distribusi kendaraan produk Toyota dimana pada proses bergerak dalam bidang perakitan aksesoris dan pendistribusian produk. Produksi yang dilakukan oleh Pre Delivery Centre PT. Hadji Kalla tidak hanya untuk pemenuhan demand area Makassar, melainkan untuk pemenuhan demand area Sulawesi Tengah. Dengan besarnya jumlah produk dan banyaknya jenis/platform produk yang akan dipasang aksesoris maka tidak heran jika dijumpai permasalahan dalam proses produksinya, seperti terjadinya bottleneck pada stasiun perakitan (spec up area).
Terjadinya bottleneck pada lintas perakitan disebabkan oleh ketidaksamaan waktu stasiun dengan waktu siklus atau dapat dikatakan tidak seragamnya waktu pengerjaan pada setiap stasiun kerja. Juga akibat dari kurang atau tidak adanya alat-alat pendukung pekerjaan perakitan, seperti rak tempat peralatan pada setiap stall sehingga menimbulkan waktu tunggu serta pembagian elemen kerja dengan jumlah stasiun yang dimiliki sekarang dilakukan tanpa memperhitungkan waktu siklus. Terjadinya bottleneck pada stasiun kerja dapat menyebabkan terhambatnya proses produksi, karena karena terjadi diskontinu lintas perakitan, dimana stasiun kerja bottleneck mengalami penumpukan Work in Process (WIP) sedangkan stasiun kerja yang lain menganggur. Sementara itu yang diharapkan perusahaan adalah terjadinya keseimbangan stasiun kerja agar lintas perakitan dapat berproduksi secara kontinu.
Masalah – masalah yang timbul dalam suatu perusahaan sudah lumrah terjadi dan salah satu masalah yang terjadi di Pre Delivery Centre PT. Hadji Kalla ini yaitu masalah waktu menganggur dan efisiensi lintas perakitan yang mempunyai andil besar dalam menentukan besarnya output yang dapat diselesaikan oleh Pre Delivery Centre PT. Hadji Kalla. Sebagai contoh adalah ekspektasi target output unit mobil yang dapat diselesaikan dalam 1 hari kerja adalah sebesar 60 unit mobil (all platform) namun jumlah output dalam realita aktual di lapangan adalah hanya sebesar ± 50 unit yang dapat terselesaikan. Ketidaksamaan waktu siklus (aktual) antar stall pada stasiun kerja penginstalan aksesoris (spec up area) mempunyai andil dalam permasalahan yang dihadapi perusahaan sehingga tidak mampu memenuhi ekspektasi target. Perbedaan waktu produksi antar stall inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan lintasan perakitan sehingga waktu tunggu meningkat dan mengakibatkan adanya waktu menganggur (idle time) pada salah satu stall.
Untuk itu diperlukan suatu metode yang tepat yang akan disajikan kepada manajemen perusahaan tentang efisiensi stasiun kerja yang optimum dan faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakseimbangan antar lini kerja yang mengakibatkan perbedaan kecepatan produksi/perakitan. Dari hasil kajian tersebut, maka dapat dilakukan evaluasi perencanaan dan perbaikan metode dan pembobotan kerja untuk mengoptimalkan stasiun kerja perakitan pada Pre Delivery Centre PT. Hadji Kalla.
Berangkat dari kondisi tersebut, penulis bermaksud menjadikan sebagai bahan penelitian tugas akhir, dengan judul : Perencanaan Sistem Produksi Perakitan Aksesoris Menggunakan Line Balancing Metode Heuristic (Studi Kasus Pre Delivery Centre PT. Hadji Kalla).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian kami yaitu untuk merencanakan metode dan proses kerja yang efisien , maka yang menjadi rumusan masalah penelitian tugas akhir ini adalah bagaimana merencanakan sistem produksi perakitan dengan menggunakan metode Line Balancing pada stasiun kerja perakitan Pre Delivery Centre PT. Hadji Kalla.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah:
1. Mengetahui besarnya waktu siklus maksimum, waktu baku setiap elemen kerja dan jumlah stasiun kerja minimum.
2. Meningkatkan efisiensi lintasan produksi melalui perbaikan metode kerja.
3. Merancang usulan perbaikan lintas perakitan produksi pada spec up area.

D. Batasan Masalah
Dalam penelitian tugas akhir ini agar tidak terlalu luas pokok permasalahannya, maka kami membatasi pokok permasalahan agar didapatkan suatu hasil yang terarah dan terfokus pada suatu keadaan tertentu. Adapun batasan masalahnya yaitu sebagai berikut :
1. Metode yang digunakan untuk merencanakan keseimbangan lintasan adalah Heuristic Line Balancing.
2. Pengamatan atau pengambilan data dilakukan hanya pada waktu bulan Juli 2010.
3. Penelitian hanya dilakukan di stasiun kerja pemasangan aksesoris mobil Pre Delivery Centre PT. Hadji Kalla, Makassar.
4. Objek penelitian adalah mobil Avanza type G Sporty (Line A) yang mempunyai spesifikasi aksesoris terbanyak.
5. Kondisi dan cara kerja dari pekerjaan yang diukur sudah baik atau sudah memenuhi prosedur standar perusahaan.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi mahasiswa:
a. Dapat menerapkan atau mengimplementasikan bidang ilmu yang telah didalami selama kuliah dalam kehidupan nyata.
b. Dengan melakukan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis, tidak hanya sebatas teoritis semata.
2. Bagi Akademik :
a. Menjalin kerja sama dengan pihak luar dalam upaya pengembangan mahasiswa dan Universitas sendiri.
b. Menambah referensi bacaan dalam bentuk skripsi untuk kebutuhan perpustakaan terutama mengenai perancangan sistem produksi perakitan dengan menggunakan metode Line Balancing.
3. Bagi perusahaan :
a. Sebagai bahan masukan bagi perusahaan dalam rangka peningkatan produktivitas perusahaan dengan mengoptimalkan efisiensi stasiun kerja.

 

disusun oleh

Andry Anugrah (D22105045)

Muliyadi (D22105047)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebutuhan energi dunia akhir-akhir ini sangat meningkat tajam, terutama dengan munculnya negara-negara industri raksasa. Peningkatan ini akan sangat terasa pada dekade-dekade awal abad ke-21. Peningkatan ini didorong oleh: naiknya kebutuhan energi listrik, naiknya keinginan untuk menggunakan teknologi yang bersih, terus naiknya harga bahan bakar fossil, naiknya biaya pembangunan saluran transmisi, dan naiknya untuk meningkatkan jaminan pasokan energi. Sebagai contoh, pada tahun 2000 kebutuhan energi listrik dunia akan mencapai 7~8 trilyun KWH dan pada tahun 2020 akan mencapai 14,5 trilyun KWH. Pada dekade ini, bahan bakar fossil dan gas bumi sebagai sumber primer hanya akan mampu menyumbang            5 trilyun KWH saja. Padahal sumber primer jenis ini amat sangat terbatas, dan pada suatu saat kelak benar-benar akan habis (Deni Almanda,2005).

Sangat terbatasnya sumber daya alam sebagai sumber primer (air, bahan bakar fossil, gas alam, panas bumi, dll.) untuk pembangkitan energi listrik telah memacu diversifikasi pemanfaatan sumber primer lainnya, antara lain energi nuklir dan energi matahari. Tenaga nuklir sebagai alternatif diversifikasi sumber energi listrik hingga saat ini masih dibayangi masalah bahaya pencemaran radioaktif dan penanganan limbah yang rumit serta mahal sehingga mengakibatkan sebagian masyarakat tak menghendaki kehadirannya karena tingkat resiko yang relatif sangat tinggi (Deni Almanda,2005).

Walaupun demikian, hingga saat ini energi nuklir sudah menyumbang 1,65 trilyun KWH dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2000 (3,5 trilyun KWH). Dengan ditemukannya teknologi pemrosesan ulang limbah nuklir, sumbangan dari sektor nuklir bisa ditingkatkan menjadi maksimum 6 trilyun KWH pada tahun 2010. Karena bahan uranium yang digunakan juga terbatas, maka titik tertinggi ini sulit sekali dilampaui, dan bahkan pada tahun 2020 diperkirakan akan terjadi penurunan (Deni Almanda,2005).

Pembangkit listrik tenaga surya itu konsepnya sederhana. Yaitu mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik. Cahaya matahari merupakan salah satu bentuk energi dari sumber daya alam. Sumber daya alam matahari ini sudah banyak digunakan untuk memasok daya listrik di satelit komunikasi melalui sel surya. Sel surya ini dapat menghasilkan energi listrik dalam jumlah yang tidak terbatas langsung diambil dari matahari, tanpa ada bagian yang berputar dan tidak memerlukan bahan bakar. Sehingga sistem sel surya sering dikatakan bersih dan ramah lingkungan.

Badingkan dengan sebuah generator listrik, ada bagian yang berputar dan memerlukan bahan bakar untuk dapat menghasilkan listrik. Suaranya bising. Selain itu gas buang yang dihasilkan dapat menimbulkan efek gas rumah kaca (green house gas) yang pengaruhnya dapat merusak ekosistem planet bumi kita (Deni Almanda,2005).

Berdasarkan pemaparan diatas, maka kami tertarik untuk mengadakan penelitian sebagai tugas akhir dengan judul: Analisis kinerja sel surya untuk pemompaan.

B. Tujuan Penelitian

1.      Mengetahui daya aki yang digunakan untuk pemompaan.

2.      Mengetahui daya sel surya pada setiap sudut datang matahari.

3.      Menghitung efisiensi sistem.

 

C. Batasan Masalah

Pada perencanaan ini  penulis membatasi permasalahan yaitu sebagai berikut:

1.    Sel surya yang digunakan terdiri dari 3 modul

2.    Sudut kemiringan sel surya (β)= 15o menghadap utara.

3.    Kapasitas aki yang dipakai 12V-80Ah

4.    Tidak dilakukan analisa konstruksi dari perencanaan sel surya.

 

D.      Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.      Bagi penulis adalah untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat pada bangku perkuliahan.

2.      Bagi akademik adalah merupakan informasi berguna mengenai pemanfaatan energi sel surya.

3.         Membantu masyarakat khususnya dalam ruang lingkup pemerintah adalah dapat membantu dalam penyediaan sumber energi alternatif.

disusun oleh:

ANDI ADIASFAR LOLO, ST

MECHANICAL ENGINEERING 2005

HASANUDDIN UNIVERSITY

I. PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Perkembangan industri di Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia saat ini semakin pesat, hal ini mendorong timbulnya persaingan antarperusahaan dalam memasarkan hasil produknya. Begitupun halnya bagi industri semen seperti pada PT. Semen Tonasa (Persero).

PT. Semen Tonasa (Persero) merupakan pabrik semen terbesar di kawasan  Indonesia timur. Hingga saat ini PT. Semen Tonasa telah memiliki empat pabrik yang memiliki kapasitas produksi sebesar 3.480.000 ton/tahun.

Seiring meningkatnya pembangunan saat ini, maka permintaan semen pun akan terus meningkat. Oleh karena itu, PT. Semen Tonasa melakukan pengembangan produksi dengan cara membangun Tonasa unit V yang perencanaan kapasitasnya sekitar 2.500.000 ton/tahun.

Beberapa produk yang dihasilkan oleh PT. Semen Tonasa yaitu Semen Portland Tipe I (OPC), Semen Portland Pozzolan (PPC), dan Semen Portland Komposit (PCC). Untuk hasil produksinya, PT. Semen Tonasa mendistribusikan semennya ke  wilayah Sulawesi Selatan berupa semen sak dengan menggunakan truk dan wilayah luar Sulawesi Selatan melalui pelabuhan Biringkassi, semen diangkut ke pelabuhan Biringkassi dalam bentuk curah dengan menggunakan trailer.

Dengan adanya perencanaan Tonasa unit V, maka akan mempengaruhi beberapa sistem distribusi semen, khususnya semen curah. Di antaranya sistem transportasi semen curah dari plant site ke pelabuhan Biringkassi. Untuk menjaga agar sistem transportasi semen curah yang sebelumnya telah ada agar tidak terganggu, maka perlu dilakukan perencanaan yang sistematis, sehingga kami tertarik untuk melakukan penelitian dengan  judul: Pemodelan Sistem Transportasi Semen Curah PT. Semen Tonasa Unit V dari Plant Site ke Pelabuhan Biringkassi (Studi Kasus PT. Semen Tonasa).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas mendorong penulis membahas bagaimana pemodelan sistem transportasi semen curah PT. Semen Tonasa unit V?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1.    Membuat pemodelan sistem transportasi semen curah dari plant site ke pelabuhan Biringkassi dengan menggunakan metode simulasi.

2.    Menentukan jumlah trailer yang digunakan pada sistem transportasi semen curah dari plant site ke pelabuhan Biringkassi.

D. Batasan Masalah

Dalam penulisan skripsi ini, kami membatasi masalah pada:

1.    Moda transportasi yang digunakan moda transportasi darat yaitu trailer.

2.    Rute yang digunakan pada perencanaan sama dengan rute transportasi semen curah yang ada sekarang.

3.    Sistem yang ada sekarang sama dengan sistem yang direncanakan untuk Semen Tonasa unit V.

4.    Distribusi yang digunakan adalah distribusi eksponensial yang digambarkan dengan simulasi arena.

5.    Diasumsikan seluruh trailer yang mengangkut semen curah dari pabrik ke pelabuhan Biringkassi tidak mengalami kerusakan dalam perjalanannya dan tidak keluar dari rute, misalnya melakukan pengisian bahan bakar di SPBU dan lain-lain.

6.    Diasumsikan alat transportasi yang akan digunakan pada perencanaan berupa alat angkut darat (trailer) di mana kapasitas trailer 27-30 ton.

7.    Diasumsikan silo pabrik dalam keadaam selalu terisi semen.

8.    Semua hasil produksi dari silo plant site didistribusikan ke silo pelabuhan Biringkassi.

E. Manfaat Penelitian

1.    Bagi penulis, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai  metode antrian dan penggunaan simulasi komputer, khususnya Arena.

2.    Bagi akademik, diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk mengembangkan pengetahuan mengenai metode/teknologi yang aplikatif dalam pemecahan masalah.

3.    Bagi perusahaan

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat:

a.    Memberikan analisis dan solusi tentang transportasi semen curah dari pabrik ke pelabuhan Biringkassi setelah Tonasa unit V beroperasi.

b.    Menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan saat merencanakan transportasi semen curah.

disusun oleh
DIAN PRATIWI SAHAR  (D 221 06 033)

ANIDYA PRAMITA SARI  (D 221 06 046)

INDUSTRIAL ENGINEERING 2006

HASANUDDIN UNIVERSITY